|
|
Ini berita agak telat Di artikel MSDN tertanggal 14 April 2009, Microsoft mengumumkan nama resmi versi terbaru SharePoint Server: Microsoft SharePoint Server 2010. Sebelumnya, produk baru ini dikenal dengan code name Microsoft SharePoint Server “14”. Langkah ini mengikuti semua produk keluarga Office “14” lainnya yang secara resmi menggunakan kode tahun “2010”.
Berbeda dari versi SharePoint sebelumnya, SharePoint kali ini tidak menggunakan kata “Office”. Padahal komunitas TI sudah sempat familiar dengan singkatan MOSS: Microsoft Office SharePoint Server. Yang jadi masalah, Microsoft SharePoint Server 2010 ini tidak boleh disingkat menjadi MSS, karena sudah digunakan oleh Microsoft Search Server Jadi, cukup disebut “SharePoint” saja.
Gelombang Office “14” ini akan dimulai dengan Exchange 2010 yang akan tersedia pada paruh kedua 2009. Versi Beta sudah bisa didownload sekarang.
Popularity: 12%
Pernah mendengan nama Badan Penyelesaian Sengket Konsumen, atau disingkat BPSK? Belum? Saya juga Sampai kebetulan membaca satu artikel di Kompas (Selasa, 23 Juni 2009) mengenai lembaga ini. Lembaga ini berada di bawah Direktorat Perlindungan Konsumen, Departemen Perdagangan, dan dibentuk berdasarkan Undang-undang (UU) nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Yup, udah 10 tahun, tapi banyak yang ngga tau, termasuk saya
jadi, kalau anda sebagai konsumen merasa dirugikan, mungkin bisa memanfaatkan lembaga ini sebelum melaporkan ke Surat Pembaca. Di website Direktorat Perlindungan Konsumen, jelas dicantumkan kantor perwakilan BPSK di beberapa kota, tapi sayangnya mereka tidak memiliki website ataupun alamat email. Mungkin ada yg berminta menawarkan membuat portal pengaduan konsumen kepada mereka?
Popularity: 24%
Mungkin ini sudah berita lama untuk banyak orang, tapi saya masih sering ditanya mengenai kapan Windows 7 akan di release. Jadi, untuk menjawab pertanyaan itu: Windows 7 akan tersedia untuk umum (General Availability) pada tanggal 22 Oktober 2009.
Windows 7 akan mencapai tahap RTM (Released to Manufacturing) sekitar akhir Juli 2009. Ini artinya, versi final Windows 7 akan tersedia pada saat itu dan memulai proses manufacturing CD/DVD, distribusi ke semua partner dan channel, sampai dengan tanggal 22 Oktober 2009 ketika Windows 7 tersedia untuk umum.
Tanggal launching di Indonesia? Tunggu tanggal mainnya
Popularity: 18%
Hari ini adalah hari perjalanan pulang: Papa Mama ke Medan dan aku ke Jakarta. Tapi kami semua ke Medan dulu naik Sriwijaya, baru setelahnya aku nyambung ke Jakarta naik AirAsia.
Ternyata, ada masalah teknis dengan pesawat Sriwijaya, dan mereka memprediksi baru bisa berangkat sekitar jam 1.30. Padahal, tiket AirAsia ku dari Medan itu jam 1.30. Aku langsung lapor ke petugas Sriwijaya yang di airport Penang, dan minta mereka menghubungi Sriwijaya Medan. Solusi yang mereka berikan adalah aku ganti naik Sriwijaya dari Medan ke Jakarta, tapi aku harus bayar sendiri. Tentu saja aku ngga terima. Aku minta nomor petugas Sriwijaya di Medan, dan aku telepon sendiri. Petugas Sriwijaya di Medan itu namanya Bapak Husnidar yang mengaku sebagai Asisten Supervisor Sriwijaya Distrik Medan. Dia tetap berkeras bahwa walaupun Sriwijaya mengalami keterlambatan, penerbangan lanjutan yang tidak menggunakan Sriwijaya bukanlah tanggung jawab Sriwijaya. Setelah berdebat panjang lebar, dia tetap tidak mau mengubah pendiriannya. Dia bilang, Sriwijaya hanya bertanggung jawab untuk penerbanganku dari Penang ke Medan. Ya sudah, krn aku kesal, aku minta saja pertanggung jawaban Sriwijaya untuk memastikan aku bisa tiba dari Penang ke Medan sebelum jam 1.30.
Akhirnya aku dibantu oleh pihak Sriwijaya Penang, oleh bapak Udanis (dan salah satu staff Sriwijaya, Shahril). Dia mengecek bahwa ternyata masih ada seat untuk penerbangan Penang-Medan oleh Lion Air jam 11.45, yang akan tiba di Medan jam 11.30. Dia yang mengurus semuanya. Aku cukup memberikan ke dia tiket Sriwijaya ku, dan meminjamkan tiket AirAsia Medan-Jakarta ku untuk di-copy sebagai bukti. Akhirnya aku bisa ke Medan naik Lion dan langsung nyambung AirAsia. Satu hal lagi yang aku sadar, ternyata transit dari International ke Domestik di Polonia untuk melelahkan sekali, karena kita harus jalan kaki melalui jalan mobil, karena memang tidak ada connecting nya. Untung saja tidak hujan, walaupun memang panas terik banget.
Setelah semua beres, baru aku cek bagaimana kondisi Sriwijaya. Pesawat yang rusak itu soalnya datang dari Medan ke Penang, jadi aku tanya ke mereka. Ternyata, pesawat itu akhirnya baru take off jam 12.30 dari Medan, yang artinya, baru tiba sekitar jam 2.15 di Penang. Kasian sekali Papa Mama menunggu di Penang 5 jam lebih
Aku baru cek lagi kondisi Papa Mama setelah udah sampe di Jakarta. Ternyata mereka juga baru tiba. Puji Tuhan, takut juga pesawatnya ngga bisa berangkat lagi. Ternyata semuanya oke hasilnya.
Aku juga untuk pertama kalinya merasakan mendarat di Terminal 3 Cengkareng, krn AirAsia (dan Mandala) sekarang disana. Suasananya sama sekali berbeda dari Terminal 1 dan 2, karena menggunakan desain yg minimalis dan tidak bersekat-sekat. Jadinya mirip Changi Singapura. Cuman memang masih banyak ruang kosong yang sepertinya akan digunakan untuk toko-toko. Yang jadi masalah, Terminal 3 ini belum punya belalai, jadi bakalan report turun naik tangga, dan lebih susah lagi kalo hujan. Trus, posisi terminal taksi nya ngga pake atap, bakal gawat kalo hujan.
Popularity: 48%
Saya sejak pagi udah memulai perjalanan. Bangun jam 5 pagi dan langsung ke airport, krn pesawat jam 7.20. Setelah antri di check-in Sriwijaya, antri bebas fiskal, antri airport tax dan antri imigrasi, saya langsung ke airport lounge satu-satunya di bagian Internasional Polonia, untuk sarapan. Sriwijaya sih biasanya ngasih makanan di pesawat, tapi biasanya roti, dan saya perlu nasi
Tiba di Penang sekitar jam 9, langsung ke YMCA karena Papa dan Mama udah nunggu di sana. Saya langsung nyebrang ke Island Hospital untuk bikin janji dengan Dr TJ Wong dan Dr Hsieh Wen Son. Ternyata Dr TJ sudah ada, jadi aku minta Papa dan Mama untuk langsung datang juga. Sewaktu ketemu Dr TJ, dia bacakan hasil lab Papa. Fungsi hati dan ginjal normal, jadi tidak ada efek samping dari obat kemoterapi nya (Xeloda). Tapi memang cancer marker nya (CA) agak di atas normal, dan Dr TJ minta kami nanti tanyakan ke Dr Hsieh.
Janji dengan Dr Hsieh baru jam 2.30, jadi kami makan siang dulu di kantin rumah sakit. Dengan Dr Hsieh lumayan banyak diskusi, terutama mengenai efek samping obatnya ke tangan dan kaki Papa, yang jadi kering dan menghitam. Dia bilang, memang ini efek samping yang sudah diperkirakan. Untuk mengurangi intensitasnya, jadwal minum obatnya diubah sedikit. Kalau selama ini setiap siklus itu 2 minggu minum obat dan 1 minggu istirahat, sekarang istirahatnya dibuat jadi 2 minggu. Kalau ternyata efek samping nya masih tetap makin parah, dia akan turunkan dosis obatnya. Untuk membantu, dia bilang sering-sering pake lotion atau pelembab kulit. Mengenai angka CA, dia bilang tidak perlu dikhawatirkan, krn memang selama pengobatan angka itu akan fluktuatif naik turun.
Setelah pulang ke YMCA, kami istirahat semua. Apalagi saya yang kurang tidur Bangun-bangun udah jam 8.30 dan harus makan malam di restoran hotel. Dan sekarang harus tidur lagi, krn besok jam 8 udah harus jalan ke airport, krn naik pesawat Sriwijaya jam 9.50 ke Medan.
Popularity: 40%
Papa perlu melakukan check-up ke dokter Hsieh Wen Son di Penang, untuk melihat perkembangan kemoterapi nya. Mama juga ikut, dan aku juga ikut nemenin. Mereka sih udah duluan hari ini berangkat ke Penang, naik Sriwijaya dari Medan. Dan sama seperti dulu, aku nyusul belakangan. Hari ini aku ke Medan dulu, naik Lion Air pesawat terakhir (jam 9 malam), trus besok pagi nyambung naik Sriwijaya ke Penang.
Ngga ada yang istimewa tadi waktu berangkat dari Jakarta ke Medan. Cuman ada 1 perbedaan, karena aku pake tiket elektronik, counter check-in nya berbeda. Aku juga sempatin datang ke counter ticketing Lion Air, untuk confirm tiket aku dan Eva dari Singapore ke Jakarta nanti setelah selesai training Glenn Doman. Soalnya ini pertama kalinya aku beli tiket online pake kartu kredit di Lion Air, dan harga tiket Singapore – Jakarta yang online 50% dari harga normal kalo booking via telepon atau travel. Takut juga Harga online lebih murah sih wajar, tapi kalo sampe 50% agak mencurigakan juga. Tapi tadi waktu di cek oleh petugas ticketing, sepertinya semuanya oke kok
Malam ini berarti nyampe di Medan udah hampir jam 12 malam, dan besok pagi jam 5 udah harus bangun, krn pesawat ke Penang berangkat jam 7.20. Besok aku sambung lagi ya!
Popularity: 34%
Di dalam newsletternya bulan Juni, Bill Schneier, salah seorang pakar security, membicarakan aspek-aspek security dari Cloud Compting yang harus dipertimbangkan olah calon user, ataupun oleh user yang sedang menggunakannya. Tapi sebelum kita membahas artikel tersebut, mari kita bicarakan dulu mengenai Cloud Computing, khususnya di Indonesia.
Cloud Computing dapat didefinisikan dengan berbagai macam cara, tapi untuk sederhananya dapat diartikan sebagai teknologi yang memungkinkan terjadinya pemrosesan dan penyimpanan data di Internet. Di dalam pendekatan tradisional, semua software dan data berada di sebuah komputer lokal, atau sebuah jaringan lokal. Dengan semakin meluasnya cakupan jaringan Internet, maka semakin banyak penyedia jasa di Internet yang memberikan service untuk menyimpan data, ataupun memberikan aplikasi dalam bentuk web. Sampai di titik ini, semua orang masih memiliki pengertian yang sama. Tapi kemudian, dalam implementasinya, terpecah menjadi 2 kubu: Software-as-a-Service (SaaS) dan Software+Services (S+S). Mari kita lihat perbedaannya.
SaaS adalah software yang disediakan secara total melalui Internet, tanpa membutuhkan apapun di komputer lokal. Contoh aplikasi SaaS yang populer adalah Salesforce.com, Gmail.com, Google Docs, Hotmail, dll. Software+Services menggabungkan software di komputer lokal dengan service-service yang disediakan di Internet. Contohnya, Office Outlook (software) + hosted Exchange (service), Microsoft Office (software) + Office Live (services), Yahoo Messenger (software) + Yahoo (services), dll. Pada dasarnya, kedua model memanfaatkan service-service yang tersedia di Internet, baik gratis maupun berbayar. Perbedaan mendasar terletak pada totalitasnya: SaaS bergantung sepenuhnya pada service tersebut, sedangkan S+S masih memungkinkan terjadinya pemrosesan oleh software di komputer lokal.
Tentunya, wajar terjadi keraguan mengenai model services seperti ini, terutama di negara seperti Indonesia yang infrastruktur Internet nya masih belum merata. Di kota-kota besar, memang sangat mudah menemukan dan menggunakan Internet, sedangkan di tempat-tempat lain belum tentu. Dan juga, walaupun mudah mendapatkan Internet di kota besar, masih sering terdengar keluhan dari pelanggan mengenai kualitas nya, baik dari sisi kecepatan maupun stabilitas. Adalah hal biasa mendapatkan koneksi Internet yg putus-nyambung, atau terlihat nyambung tapi tidak ada data yang bergerak Bayangkan apa yang terjadi dengan pelanggan SaaS ketika koneksi Internetnya putus
Bill Schneier melihat Cloud Computing dalam konteks yang berbeda. Tentunya, sebagai pakar security plus sangat concern mengenai privacy, dia melihat Cloud Computing secara kritis dari sisi security dan privacy. Dan tentunya mudah ditebak hal-hal yang dia highlight. Secara umum, semuanya masuk dalam satu payung: Kepercayaan. Cloud Computing mengharuskan kita percaya total kepada sang provider:
- Percaya bahwa dia akan melakukan backup terhadap data kita. Bayangkan kalau tiba-tiba Gmail mengalami kerusakan total dan menghilangkan email kita.
- Percaya bahwa dia akan melindungi data kita dari pencurian ataupun perusakan data. Kita harus percaya bahwa sang provider akan memasang security system yang memadai, seperti firewall, Intruder Detection/Prevention System, dll. Apa yang terjadi kalau data customer kita, atau data keuangan kita, dicuri oleh orang lain? Atau oleh karyawan sang provider?
- Percaya bahwa dia tidak akan bangkrut dan data kita turut hilang bersamanya.
- Percaya bahwa provider tersebut tidak kebetulan dibeli oleh kompetitor kita. Ini kecil kemungkinan terjadi untuk pelanggan dari Indonesia, but who knows?
- Percaya bahwa dia tidak akan melakukan cost cutting dengan menurunkan standard pelayanannya. Tiba-tiba kita tidak bisa meminta customer support gratis, misalnya. Atau Service Level Agreement (SLA) turun dari 2 jam menjadi 4 jam.
- Percaya bahwa dia tidak akan menaikkan harga semena-mena dan “menyandera” data kita sampai kita membayar.
Tentunya semua hal di atas dapat terjadi dengan software vendor manapun, tapi efeknya sangat dramatis bila terjadi pada provider Cloud Computing.
Untuk memastikan kita tidka menjadi korban, pastikan kita memperhatikan beberapa hal berikut:
- Baca dengan teliti SLA dari provider tersebut. Pastikan tim legal anda sudah membacanya dan menentukan tingkat resikonya. Ingat, SLA itu bersifat generik, bukan unik per pelanggan. Jadi, take it or leave it.
- Sama seperti sistem TI manapun, do backup and do it often. Kalau ada provider yang tidak memberikan cara backup, cari provider lain.
- Monitor terus menerus forum-forum mengenai provider tersebut, sehingga kita bisa tau secara cepat bila terjadi hal-hal yang harus diperhatikan, seperti perubahan SLA, dll.
Tentunya, hal-hal di atas tidak berlaku bila anda menggunakan Cloud Computing untuk keperluan pribadi. Tapi, ngga juga ya? Saya bayangin, kalo semua email saya di Gmail hilang, wow, that’s a disaster! Dan mengingat bahwa Gmail itu resminya masih Beta …
Anyway, happy Cloud Computing!
Popularity: 28%
Tanggal 22 Juni kemarin, Joan genap berumur 5 tahun 11 bulan. Tinggal 1 bulan lagi, Joan genap 6 tahun nih. Di bulan ini, hadiah kami untuk Joan adalah rumah baru di Bintaro. Masih belum beres sih, masih banyak bagian-bagian yang harus diperbaiki. Dan kami memang baru bikin acara masuk rumah entar pas Joan ulang tahun. Tapi minggu lalu kami sudah coba nginap di sana, dan Joan senang sekali. Dia banyak senyum, juga banyak tidur. Dan waktu pulang dari sana, dia nangis
Joan juga ada perubahan obat, krn Dr Dwi nyetop obat Dilantin. Ngga ada penggantinya, hanya dosis Topamax yang dinaikkan jadi 2×50mg. Joan sempat sering gelisah dan susah tidur, sepertinya dia perlu menyesuaikan diri juga dengan perubahan dosis yang menurut kami agak drastis juga. Tapi sekarang sepertinya dia sudah bisa menyesuaikan diri, dan udah banyak senyum lagi.
Minggu depan, kami akan ke Singapore, untuk training Glenn Doman, supaya kami bisa ngasih terapi Glenn Doman untuk Joan. Doakan kami selalu ya, terutama Joan, supaya berkat Tuhan selalu tercurah bagi kami sekeluarga. Tuhan memberkati.
Popularity: 100%
Pada acara JavaOne awal Juni ini, Larry Ellison tampil sebagai CEO Oracle, yang dinilai banyak pihak sebagai “penyerahan tongkat estafet” dari co-founder dan chairman Sun Microsystem Scott McNealy. Bagaimanapun juga, JavaOne adalah salah event terpenting bagi Sun, dan sejak pengumuman rencana pembelian Sun oleh Oracle, tentu saja event ini menjadi penting bagi Oracle.
Sebuah artikel menarik dari The Register menjelaskan bagaimana sepak terjang Oracle selalu berhubungan dengan keinginan mereka untuk menjadi “independen”, tidak bergantung pada vendor lain. Dengan produk utama berupa sebuah database, Oracle telah melakukan banyak hal untuk mencapai tujuan ini. Hal pertama yang mereka butuhkan adalah kebebasan dari Operating System, sehingga mereka dengan senang hati merangkul Linux sehingga bisa terbebas dari Windows, dan sedikit banyak, Solaris. Langkah-langkah Oracle selanjutnya mengarah ke sana juga. Pembelian PeopleSoft, Hyperion, BEA, semuanya untuk memastikan bahwa Oracle bisa “berjalan sendiri” tanpa harus menggabungkan solusi mereka dengan vendor lain.
Rencana pembelian Sun (masih rencana, karena belum disetujui) tentu saja mengarah ke hal yang sama. Dengan semakin bergantungnya Oracle pada Java, pembelian Sun menjadi logis. Tentu saja dengan “bonus” mendapatkan Solaris (“Hore, kami sekarang memiliki Operating System!”), hardware Sun, dan tentunya, OpenOffice. Sudah lama komunitas open source (dan komunitas TI secara umum) menantikan tanda-tanda akan ke mana Oracle akan membawa OpenOffice.
Dan sepertinya, tanda-tanda itu mulai terlihat dengan penampilan Larry Ellison di JavaOne. Larry Ellison mengatakan bahwa dia sangat menyukai JavaFX dan telah bertemu secara rahasia dengan tim produk dari Sun. Ellison bahkan dengan gembira mengatakan bahwa dia “memberikan saran” bagi tim OpenOffice untuk berpindah ke JavaFX. Sekedar catatan, OpenOffice saat ini menggunakan library C++. “Kami menyarankan grup OpenOffice untuk secepatnya membangun versi spreadsheet dan word app menggunakan JavaFX”, kata Larry Ellison.
Ellison sepertinya memilih waktu yang tepat. Saat ini OpenOffice sedang memikirkan implementasi dan pengembangan di masa depan. Termasuk di antaranya adalah Project Renaissance untuk mencari User Interface terbaik. Dan bila OpenOffice menggunakan JavaFX, maka Oracle kembali mencapai “independence” yang mereka inginkan, krn JavaFX adalah teknologi Sun, yang otomatis akan menjadi teknologi milik Oracle. Dan dengan besarnya investasi yang sudah dilakukan oleh Oracle di dalam Java, mereka pasti akan sangat ingin memanfaatkan teknologi yang sama untuk semua produk mereka, termasuk OpenOffice.
Hal ini lah yang justru membuat komunitas open source agak … khawatir. Pertama, JavaFX adalah salah satu teknologi Java yang tidak pernah masuk ke dalam Java Community Process (JCP). Sun sejak dulu selalu menghindar untuk memberikan penjelasan mengenai hal ini. Akibatnya JavaFX masih dalam kontrol langsung dari Sun. Kedua, walaupun Sun adalah kontributor utama di dalam OpenOffice, kenyataannya masih banyak pihak lain yang terlibat, atau setidaknya memiliki kepentingan, seperti IBM, Novell, Red Hat, bahkan Google. IBM dan Google sudah lama menjadi pendukung AJAX, dan di tahun 2005 sempat ada pembicaraan untuk menggunakan AJAX di dalam OpenOffice.
Jadi, kita harus menunggu bagaimana hasil akhirnya. Kalau Ellison akhirnya berhasil “memaksa” OpenOffice menggunakan JavaFX, maka OpenOffice harus ditulis ulang, dan menambah waktu yang dibutuhkan untuk “mengejar” Microsoft Office. Tindakan ini juga akan membuat komunitas open source menjadi skeptis terhadap Oracle, krn artinya Oracle telah mengutamakan kepentingan bisnis mereka diatas kepentingan komunitas. Dan tentunya akan membuat komunitas khawatir mengenai nasib proyek open source lainnya seperti MySQL, OpenSolaris, dll. Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan Ellison adalah menempatkan JavaFX di dalam JCP, walaupun belum tentu memenangkan hati IBM dan Google yang akan tetap melihat JavaFX sebagai teknologi milik Sun/Oracle, sama seperti NetBeans yang dibutuhkan untuk menggunakan JavaFX.
Popularity: 64%
Film yang sudah lama ditunggu-tunggu, akhirnya kami nonton juga di Blitzmegaplex Pacific Place. Ngga bisa dibilang luar biasa, tapi memang film nya bagus, baik dari sisi cerita maupun dari sisi special effect. Yang menarik, Eva yang tidak pernah suka Star Trek bisa bilang kalo film ini bagus. Berarti, target film ini berhasil di capai: me-restart ulang franchise Star Trek untuk orang-orang yang selama ini tidak menonton Star Trek.
Tapi memang alur cerita film ini menarik sekali. Untuk orang seperti saya yang sudah menonton semua episode Star Trek, tidak ada hal ganjil yang mengganggu. Dan sebaliknya, untuk orang-orang seperti Eva yang belum pernah atau jarang menonton Star Trek, mereka diperkenalkan kepada dunia Star Trek perlahan-lahan, sama seperti film-film Sci-fi lainnya. Bahkan salah satu teknologi Star Trek yang cukup dikenal seperti transporter baru digunakan ditengah film.
Salah satu hal yang cukup mengganggu adalah teks bahasa Indonesia nya. Saya tidak tau apakah ini keputusan yang disengaja, atau memang yang menerjemahkan tidak mengerti dunia Star Trek. Ada banyak “teknologi” Star Trek yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, yang justru akan membingungkan bagi pecinta Star Trek, seperti “warp drive” menjadi “mesin lompatan” atau malah kadang menjadi “lompatan waktu”, “Starfleet” yang menjadi “Armada Bintang”. Menurut saya, seharusnya istilah-istilah yang sudah umum bagi pecinta Star Trek sebaiknya tidak diterjemahkan, krn toh untuk penonton awam tidak akan ada bedanya.
Hal paling luar biasa mengenai film ini adalah alur ceritanya. Dengan tujuan untuk me-restart ulang franchise Star Trek, penulis skenario dengan pintar membuat cerita yang didasarkan pada alur “standar” Star Trek, tapi pada saat yang sama membuat keseluruhan cerita Star Trek bisa “ditulis ulang”. Hal ini membuat film-film berikutnya bisa dibuat dengan “bebas” tanpa takut bertabrakan dengan cerita Star Trek yang sudah mapan. Saya tidak bisa cerita banyak di sini untuk tidak membocorkan plot Tapi memang, hal-hal seperti kehancuran salah satu planet utama Federation, kisah asmara di antara anggota Enterprise, karir Kirk yang sangat berbeda dengan aslinya, dst, akan membuat cerita di film-film berikutnya akan menjadi sangat “terbuka” dan tidak lagi mengikuti cerita Star Trek yang sudah ada. Akibatnya, baik pecinta Star Trek maupun penonton awam akan selalu menunggu sekuel selanjutnya dari film ini.
Rekomendasi? Highly recommended!
Popularity: 58%
|
|